Breaking

Investor Ritel Serbu IPO Unitree Hingga Oversubscribed 8.000 Kali

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Selasa, 11 Agustus 2026
Investor Ritel Serbu IPO Unitree Hingga Oversubscribed 8.000 Kali
Ilustrasi Investor Ritel (FOTO : NET)

JAKARTA – Perusahaan robotika asal China, Unitree, membukukan lonjakan permintaan hingga melampaui 8.000 kali dari investor ritel dalam aksi penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) senilai US$900 juta di Bursa Shanghai.

Sebagaimana dilaporkan Reuters berdasarkan keterbukaan informasi pada Senin (10/8), rasio keberhasilan pemodal ritel untuk mengamankan saham Unitree hanya berkisar 0,018 persen. Alhasil, pihak perseroan mengaktifkan mekanisme clawback guna memindahkan alokasi saham dari segmen investor institusi menuju investor ritel.

Kesempatan pemodal ritel dalam mengamankan porsi saham Unitree ini tergolong lebih sempit dibandingkan mayoritas IPO lain di China sepanjang tahun ini. Tingginya antusiasme tersebut menjadi cermin besarnya daya tarik investor terhadap industri robotika serta teknologi modern.

“Unitree secara strategis penting bagi Tiongkok. Robot humanoidnya akan menantang Optimus milik Elon Musk,” kata Wen Hao, investor senior di Hangzhou, kota tempat Unitree bermarkas sebagaimana dilansir dari berita sumber.

“Saya perkirakan stoknya akan berlipat ganda beberapa kali lipat saat debut,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Unitree siap memegang status sebagai manufaktur robot humanoid perdana di China yang memamerkan sahamnya pada bursa saham lokal. Entitas ini berkompetisi ketat melawan Tesla dan Boston Dynamics dalam ranah pengembangan robot humanoid.

Pada pekan lalu, Unitree patok harga perdana IPO sebesar 150,80 yuan atau setara US$22,36 per lembar saham. Penetapan harga tersebut mengerek estimasi nilai valuasi korporasi hingga melampaui 60 miliar yuan.

“Valuasi IPO yang relatif tinggi dapat menarik perhatian pasar terhadap nilai komersial industri robotika,” tulis SWS Research dalam catatan risetnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

“Hal ini berpotensi mengarah pada penetapan harga ulang saham-saham terkait robotika,” lanjut lembaga tersebut sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, tidak seluruh pelaku pasar memandang masa depan Unitree dengan nada optimistis. Beberapa investor menyoroti potensi risiko dari mahalnya nilai valuasi serta aksi lepas saham sektor teknologi yang marak belakangan ini.

“IPO itu mahal, dan risiko investasinya sudah cukup tinggi,” kata Wang Zhuo, partner Shanghai Zhuozhu Investment Management sebagaimana dilansir dari berita sumber.

“Unitree menghasilkan sebagian besar penjualannya dari penelitian dan demonstrasi, namun penerapannya secara lebih luas masih jauh,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Mengacu pada patokan harga IPO, angka tersebut mencerminkan nilai valuasi Unitree sekitar 219 kali dari perolehan laba bersih tahun 2025 serta 36 kali dari total penjualan. Angka skala valuasi tersebut memperlihatkan tingginya ekspektasi pasar atas ekspansi bisnis robotika perseroan.

Unitree turut menguasai pangsa pasar krusial di wilayah Amerika Serikat. Meski demikian, pihak perseroan telah melayangkan peringatan terkait bayang-bayang risiko geopolitik, termasuk ancaman pengetatan penjualan oleh otoritas pemerintah AS.

Lembaga Xiangcai Securities menilai Unitree dituntut untuk “terus tumbuh pesat guna membenarkan valuasinya yang tinggi,” beriringan dengan melambungnya angka valuasi saham milik perseroan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua