Breaking

Suku Bunga BI-Rate Tahan Rupiah di Rp 17.877 per Dolar AS Hari Ini

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 13 Agustus 2026
Suku Bunga BI-Rate Tahan Rupiah di Rp 17.877 per Dolar AS Hari Ini
Ilustrasi Suku Bunga BI-Rate (FOTO : NET)

JAKARTA – Mata uang rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu (12/8/2026), akibat tekanan gabungan dari sikap waspada pasar menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS), kondisi geopolitik Timur Tengah, serta besarnya permintaan devisa domestik. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 16 poin atau 0,09 persen menuju level Rp 17.877 per dolar AS.

Di sisi lain, mengacu pada data Trading Economics, rupiah berada pada level Rp 17.873 per dolar AS atau terdepresiasi 0,28 persen, sedangkan menurut kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah menempati level Rp 17.876 per dolar AS atau melemah 0,29 persen dari posisi hari sebelumnya di Rp 17.824 per dolar AS.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menyampaikan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah pada Rabu (12/8) tidak sepenuhnya dipicu oleh penguatan dolar AS secara global, mengingat indeks dolar (DXY) hanya merayap naik tipis dari 99,828 menuju level 99,859. Syafruddin menilai, para pelaku pasar cenderung menahan posisi menanti rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan Juli yang tergolong sangat krusial dalam mengubah ekspektasi arah suku bunga acuan The Fed secara cepat.

"Kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah ikut meningkatkan persepsi risiko bagi mata uang negara pengimpor energi," ujar Syafruddin sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Untuk sesi perdagangan Kamis (13/8), Syafruddin mencatat lima sentimen utama yang bakal memengaruhi pergerakan rupiah secara simultan. Faktor pendorong paling utama ialah respons pasar global terhadap rilis data CPI AS, yang mana inflasi yang melandai berpeluang menekan DXY serta imbal hasil (yield) US Treasury sehingga memberikan ruang bagi penguatan rupiah.

Di samping itu, pergerakan nilai tukar rupiah akan dipengaruhi oleh dinamika harga minyak mentah dunia, tren mata uang di kawasan Asia, arus modal asing pada instrumen SBN, SRBI, dan saham, serta kecenderungan pasar dalam mengantisipasi rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS. Dari segi kebijakan moneter dalam negeri, keputusan penahanan suku bunga BI-Rate di level 5,75 persen beserta penguatan instrumen SRBI oleh Bank Indonesia dinilai sanggup mempertahankan daya tarik aliran modal asing dan menopang kestabilan nilai tukar.

Syafruddin menganggap kecenderungan pergerakan rupiah pada Kamis berpotensi stabil dengan peluang penguatan yang terbatas, selama rilis data inflasi AS tidak memicu lonjakan baru pada dolar AS maupun yield Treasury. Mengenai proyeksi besok Kamis (13/8/2026), Syafruddin memperkirakan rupiah bergerak di kisaran level Rp 17.750-Rp 17.975.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua