Breaking

Nasdaq Anjlok 1,33 Persen, Aksi Jual Saham Chip Makin Dalam

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Rabu, 19 Agustus 2026
Nasdaq Anjlok 1,33 Persen, Aksi Jual Saham Chip Makin Dalam
Ilustrasi Nasdaq melemah 1,33 persen dipicu aksi jual saham chip yang semakin dalam. (sumber foto: NET)

JAKARTA – Indeks utama Wall Street ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa (18/8/2026). Sektor semikonduktor memimpin penurunan saham teknologi, sementara ketidakpastian di Timur Tengah mendorong imbal hasil obligasi ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Mengutip Reuters, indeks S&P 500 turun 53,30 poin atau 0,69% ke level 7.691,76. Nasdaq Composite melemah 355,20 poin atau 1,33% ke level 26.289,71, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 116,38 poin atau 0,22% menjadi 53.343,40.

Dari 11 sektor utama S&P 500, sektor teknologi informasi memberikan dampak negatif terbesar terhadap indeks. Sektor tersebut juga mencatatkan penurunan persentase paling besar, yakni 1,9%.

Penurunan terbesar dari saham individual di S&P 500 berasal dari perusahaan chip. Saham produsen chip AI Nvidia turun 2,3%, sedangkan saham produsen chip memori Micron Technology anjlok 7% setelah sempat naik hampir 18% dalam 5 sesi perdagangan sebelumnya.

Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 14,86 miliar saham. Rata-rata volume perdagangan dalam 20 sesi terakhir tercatat 16,88 miliar saham.

Memudarnya harapan perdamaian di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak. Kondisi tersebut kemudian memicu kenaikan yield Treasury AS tenor 30 tahun ke level tertinggi sejak 2007.

Yield obligasi tenor 10 tahun juga menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025.

Indeks Semikonduktor Philadelphia SE anjlok 5% ketika investor melepas saham-saham yang sebelumnya menguat akibat lonjakan permintaan terkait kecerdasan buatan (AI).

Meningkatnya biaya pinjaman menurunkan nilai yang bersedia dibayarkan investor untuk potensi pertumbuhan laba perusahaan teknologi.

"Hal ini bermula seperti efek domino. Pembicaraan gagal mencapai kesepakatan. Hal itu menyebabkan harga minyak naik. Kondisi tersebut memicu ekspektasi inflasi yang lebih tinggi dan kenaikan imbal hasil obligasi," ujar Burns McKinney, manajer portofolio di NFJ Investment Group, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menambahkan bahwa "setiap kali imbal hasil obligasi naik, dampaknya cenderung lebih berat terhadap saham-saham teknologi," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Saham lain yang terdampak cukup parah adalah perusahaan penyimpanan data Sandisk dan Western Digital. Saham keduanya masing-masing turun 9% dan 7,4%.

ETF Roundhill Memory juga merosot 8,8% setelah mencatatkan kenaikan selama 5 sesi perdagangan berturut-turut.

"Tidak ada hal yang dapat mematahkan reli momentum sekuat kenaikan suku bunga, dan hari ini kita melihat bukti nyata akan hal tersebut," ujar Tony Welch, Chief Investment Officer di SignatureFD, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menambahkan bahwa kenaikan yield mengindikasikan kebijakan Federal Reserve terlalu longgar apabila melihat prospek pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

Investor meninggalkan sektor-sektor dengan pertumbuhan tinggi dan beralih ke sektor yang lebih defensif. Sektor kesehatan naik 1,6%, sedangkan sektor barang kebutuhan pokok konsumen menguat 1,1%.

Indeks volatilitas Wall Street atau VIX naik 0,65 poin menjadi 15,84. Angka tersebut merupakan penutupan tertinggi sejak 4 Agustus.

Investor kini menantikan laporan kinerja sejumlah peritel yang akan dirilis pada akhir pekan ini, termasuk Walmart yang dianggap sebagai tolok ukur utama sektor ritel.

Risalah rapat The Fed pada Juli yang dijadwalkan dirilis Rabu dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai penilaian bank sentral terhadap kondisi ekonomi saat ini.

Laporan kuartalan Nvidia mendatang juga dipandang sebagai ujian besar berikutnya bagi momentum pasar yang didorong oleh AI.

Wall Street tertekan oleh aksi jual saham teknologi dan kenaikan yield obligasi, dengan indeks semikonduktor Philadelphia turun 5% dan Nasdaq melemah 1,33%.

 

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua