Breaking

Saham Teknologi dan Chip Asia Merosot Imbas Lonjakan Imbal Hasil

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Rabu, 19 Agustus 2026
Saham Teknologi dan Chip Asia Merosot Imbas Lonjakan Imbal Hasil
Ilustrasi saham teknologi (FOTO : NET)

JAKARTA – Saham teknologi dan chip Asia anjlok pada Rabu ini, memperpanjang aksi jual global seiring lonjakan imbal hasil obligasi jangka panjang yang memicu kekhawatiran atas valuasi tinggi perusahaan-perusahaan terkait AI serta biaya pembiayaan sektor tersebut.

Saham SoftBank Group Jepang (TYO:9984) turun lebih dari 10% setelah laporan Nikkei menyebutkan bahwa perusahaan tersebut berencana menerbitkan obligasi korporasi senilai sekitar 1 triliun yen ($6,26 miliar) yang ditujukan bagi investor ritel di Jepang.

Penerbitan obligasi tersebut diperkirakan akan menjadi penerbitan ritel terbesar yang pernah dilakukan oleh perusahaan Jepang.

Di Jepang, Renesas Electronics (TYO:6723) merosot 9%, sementara Kioxia Holdings (TYO:285A) anjlok hampir 13%. Indeks Nikkei 225 turun hampir 3%, mengikuti kerugian yang dipimpin sektor teknologi di Wall Street.

KOSPI Korea Selatan anjlok 5,2%, dengan Samsung Electronics (KS:005930) turun 7,5% dan SK Hynix Inc (KS:000660) kehilangan 10%.

Saham Semiconductor Manufacturing International Corp (SMIC) (HK:0981) yang terdaftar di Hong Kong turun 6%, sementara Hua Hong Semiconductor (HK:1347) anjlok hampir 13%.

Penurunan ini mengikuti aksi jual tajam semalam pada saham chip AS, dengan Nvidia (NASDAQ:NVDA) turun 2,3%, Micron Technology (NASDAQ:MU) 7%, dan SanDisk (NASDAQ:SNDK) 9%.

Tekanan semakin diperkuat oleh aksi jual obligasi global. Imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun sempat naik ke 5,337%, level tertingginya sejak 2007, sementara imbal hasil tenor 10 tahun tetap berada di sekitar 4,70%.

Aksi jual ini menyoroti meningkatnya sensitivitas ekuitas terkait AI terhadap biaya pembiayaan setelah reli yang kuat, meskipun permintaan terhadap chip dan infrastruktur pusat data tetap kuat.

Para investor juga menantikan risalah rapat Juli Federal Reserve untuk mendapatkan petunjuk mengenai prospek suku bunga, dengan imbal hasil yang lebih tinggi mengancam akan memberikan tekanan yang sangat besar pada saham-saham pertumbuhan yang valuasinya bergantung pada pendapatan masa depan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua