Breaking

BI Dorong Penggunaan Renminbi Domestik untuk Kurangi Tekanan Dolar AS

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Jumat, 21 Agustus 2026
BI Dorong Penggunaan Renminbi Domestik untuk Kurangi Tekanan Dolar AS
Ilustrasi nilai tukar rupiah (FOTO : NET)

JAKARTA – Bank Indonesia berupaya mengurangi kebutuhan dolar AS dalam transaksi perdagangan Indonesia dengan China melalui penguatan penggunaan renminbi secara langsung di pasar domestik. Langkah ini merupakan bagian dari kebijakan pendalaman pasar uang dan valuta asing guna mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Permintaan renminbi di pasar domestik telah mencapai 38,9 miliar dolar AS per Juli 2026. Jumlah tersebut hampir menyamai asumsi internal Bank Indonesia mengenai kebutuhan renminbi tahunan sebesar 40 miliar dolar AS.

Guna memenuhi tingginya permintaan tersebut, Bank Indonesia menyiapkan bank kliring untuk memastikan ketersediaan likuiditas serta mendorong transaksi renminbi di pasar domestik. Bank of China telah dipastikan menjadi bank kliring renminbi pertama di Indonesia.

Bank Indonesia juga mendorong keterlibatan bank nasional, termasuk bank Himbara yang sedang menyelesaikan proses administrasi. Langkah ini ditargetkan membuat dua bank kliring renminbi beroperasi paling lambat pada kuartal empat 2026.

Penguatan pasar renminbi diperlukan seiring meningkatnya aktivitas ekspor dan impor antara Indonesia dan China, khususnya pada transaksi dengan skema Local Currency Transaction. Selama ini, pelaku pasar yang membutuhkan renminbi harus membeli dolar AS terlebih dahulu sebelum menukarkannya.

Penukaran mata uang tersebut bahkan kerap dilakukan melalui pasar offshore di luar negeri. “Ini kami mau potong mekanisme seperti itu dengan menambah supply RMB di domestik, sehingga mereka tidak perlu beli dolar dulu tapi mereka langsung transaksi RMB,” kata Destry sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pemangkasan mekanisme tersebut diharapkan dapat meredakan tekanan nilai tukar rupiah akibat tingginya permintaan dolar AS. “Ini juga akhirnya akan mengurangi tekanan juga terhadap permintaan dolar ke depannya,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua