Breaking

Morgan Stanley Prediksi Harga Emas Tembus 5.000 Dolar AS per Troy Ounce

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 27 Agustus 2026
Morgan Stanley Prediksi Harga Emas Tembus 5.000 Dolar AS per Troy Ounce
Ilustrasi Emas (FOTO : NET)

JAKARTA – Harga emas kembali mencatatkan penguatan setelah sebelumnya sempat mengalami tekanan.

Pada hari Kamis, harga emas tetap bertahan di atas level US$4.500 per troy ounce seiring merosotnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang kembali mendongkrak minat para investor terhadap logam mulia.

Prospek harga emas dinilai semakin menarik usai Morgan Stanley meningkatkan optimismenya terhadap komoditas tersebut.

Laju kenaikan harga emas yang berjalan lebih cepat dari perkiraan membuat target bank investasi itu untuk kuartal IV 2026 di angka US$4.450 per troy ounce telah berhasil tersentuh lebih awal.

Analis Morgan Stanley Amy Gower menyatakan, "Harga emas telah mencapai perkiraan kami untuk kuartal keempat sebesar $4.450/oz lebih cepat dari yang diperkirakan," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Atas dasar itu, Morgan Stanley melihat adanya peluang bagi harga emas untuk bergerak menuju level melampaui US$5.000 per troy ounce pada tahun 2027.

Gower menambahkan bahwa bank tersebut melihat adanya "jalur menuju >$5.000/oz pada tahun 2027 tetapi juga dengan potensi volatilitas," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Hal ini menandakan bahwa angka US$5.000 bukan cuma target jangka pendek, melainkan level yang berpotensi dicapai dalam lintasan pergerakan harga emas pada 2027. Meski demikian, para investor diimbau tetap memperhitungkan risiko fluktuasi harga yang tergolong tinggi.

Pihak Morgan Stanley mencatat ada sejumlah faktor utama yang dapat terus menopang pergerakan harga emas.

Pertama, tingkat permintaan pada produk investasi berbasis emas seperti ETF terus menunjukkan peningkatan. Kedua, bank-bank sentral dunia hingga kini masih gencar melakukan aksi pembelian emas.

Faktor pendorong lainnya bersumber dari ekspektasi pasar mengenai arah kebijakan Federal Reserve. Kian rendahnya probabilitas kenaikan suku bunga lanjutan dinilai sanggup menjadi katalis positif bagi penguatan harga emas.

Sebab, emas tergolong sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil berupa bunga. Saat tingkat imbal hasil obligasi serta suku bunga mengalami penurunan, daya tarik emas cenderung makin menguat.

Selain itu, dinamika terbaru dari pergerakan harga emas turut dipengaruhi langkah kebijakan Washington yang melipatgandakan beberapa operasi pembelian kembali obligasi Treasury jangka panjang. Kebijakan ini sempat memicu penurunan imbal hasil obligasi AS serta nilai tukar dolar, sekaligus mendorong kenaikan permintaan pada aset safe haven.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua