Yield Obligasi Naik Tekan Prospek Pasar Saham Global 2026
JAKARTA – Chief Global Equity Strategist Goldman Sachs, Peter Oppenheimer, menyebut pasar saham global telah menikmati kenaikan luar biasa.
“Kita harus mengakui bahwa S&P 500 dan pasar saham lainnya di seluruh dunia telah mencatatkan imbal hasil yang luar biasa sepanjang tahun lalu dan sejak awal tahun,” kata Oppenheimer sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia menambahkan, “Jadi, kita sudah mendapatkan banyak imbal hasil yang baik. Kami memperkirakan imbal hasil dari sini akan lebih rendah,” lanjutnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Oppenheimer memperkirakan kenaikan tetap ada, namun lebih terbatas dibanding periode sebelumnya.
“Dalam sebagian besar kasus, kami memperkirakan imbal hasil berada pada kisaran persentase satu digit menengah hingga tinggi dalam 12 bulan ke depan, lebih rendah daripada yang kita lihat di setiap kawasan selama 12 bulan terakhir,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Meski demikian, ia menilai hasilnya masih cukup baik selama pertumbuhan ekonomi global berlanjut. “Namun, hasilnya masih relatif baik selama pertumbuhan ekonomi berlanjut. Itulah ekspektasi kami,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pandangan ini muncul setelah S&P 500 naik sekitar 12 persen sepanjang 2026. Namun, prospek pasar kini dibayangi aksi jual obligasi global yang mendorong yield naik. Yield obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak 2023, sementara obligasi 30 tahun mendekati rekor dua dekade.
Fenomena kenaikan yield juga terjadi di Jepang, Inggris, dan Jerman. Strategist Miller Tabak, Matt Maley, menilai pasar saham sejauh ini masih mampu mengabaikan kenaikan yield. “Pasar saham sejauh ini mampu mengabaikan pergerakan tersebut sepanjang tahun ini. Namun, seperti yang telah kita lihat sebelumnya, yield yang lebih tinggi tidak menjadi masalah bagi saham sampai pada akhirnya benar-benar menjadi masalah,” tulis Maley sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Selain itu, lonjakan harga minyak di atas 90 dollar AS per barrel turut menambah tekanan. Founder Sevens Report Research, Tom Essaye, menyebut, “Pada akhirnya, harga minyak yang lebih tinggi mendorong yield naik, dan yield yang lebih tinggi menekan saham,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Essaye memperkirakan pelemahan pasar dapat berlanjut, terutama pada saham sektor pertumbuhan dan sektor sensitif siklus ekonomi, selama hubungan antara kenaikan harga minyak dan yield obligasi belum mereda.