Breaking

Dividen Interim 2026 Bergulir, BBCA hingga PSAB Jadi Pilihan

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Rabu, 09 September 2026
Dividen Interim 2026 Bergulir, BBCA hingga PSAB Jadi Pilihan
Ilustrasi Sejumlah emiten unggulan, terutama dari sektor perbankan besar, telah menyampaikan rencana distribusi dividen interim.(sumber foto: NET)

JAKARTA - Musim dividen interim 2026 mulai bergulir di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejumlah emiten besar dengan karakteristik saham blue chip telah mengumumkan rencana pembagian dividen interim dari tahun buku 2026 kepada para pemegang saham.

Sejumlah emiten unggulan, terutama dari sektor perbankan besar, telah menyampaikan rencana distribusi dividen interim. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu emiten yang merencanakan tiga kali pembagian dividen interim sepanjang 2026.

Setelah sebelumnya membagikan dividen Rp20 per saham pada Juni, BBCA kembali menyalurkan dividen interim sebesar Rp25 per saham pada Agustus. Dengan demikian, total dividen interim yang telah dibayarkan mencapai Rp45 per saham.

Langkah tersebut kemudian diikuti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang menetapkan dividen interim sebesar Rp66 per saham dengan total sekitar Rp6,16 triliun.

Dari sektor non-perbankan, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) menyiapkan dana dividen interim sebesar Rp793,8 miliar atau setara Rp30 per saham.

Sementara itu, PT Astra International Tbk (ASII) menyatakan kebijakan dividen interim masih akan mempertimbangkan posisi keuangan, profitabilitas, serta kebutuhan kas operasional dan investasi secara seksama.

PT United Tractors Tbk (UNTR) juga memberikan sinyal bahwa kebijakan dividen interim dan final akan tetap dijalankan secara konsisten seperti tahun-tahun sebelumnya. Hal tersebut dilakukan meskipun kinerja keuangannya sempat menghadapi tekanan penyesuaian laba bersih per Juni 2026.

Secara historis, puncak musim dividen interim di Indonesia biasanya berlangsung pada periode Agustus hingga Oktober. Periode tersebut bertepatan dengan setelah rilis laporan keuangan semester pertama yang memberikan visibilitas arus kas (cash flow generation) yang lebih matang bagi emiten.

Peluang pembagian dividen interim tahun ini dinilai cenderung lebih besar, khususnya pada emiten sektor tambang emas dan perkebunan sawit. Namun, peningkatan laba tidak secara otomatis membuat seluruh emiten menaikkan porsi pembagian dividennya.

Musim dividen interim tahun ini juga mulai ramai lebih awal. Meski demikian, secara historis puncak pembagian dividen sering berlangsung pada Oktober hingga November setelah emiten merilis kinerja sembilan bulan (9M). Mayoritas pembayaran kemudian terealisasi pada November hingga Desember.

Sektor minyak kelapa sawit atau CPO seperti TAPG, LSIP, DSNG, dan AALI dinilai memiliki potensi menarik. Prospek tersebut didorong pertumbuhan laba semester pertama akibat penguatan harga CPO serta implementasi mandatori biodiesel B50.

Ruang pembagian dividen dari sektor emas juga dinilai terbuka seiring kenaikan laba dan arus kas. Namun, investor tetap disarankan selektif karena kebutuhan belanja modal (capex) di sektor pertambangan tergolong tinggi.

Dalam strategi akumulasi saham hingga menjelang dividen final, beberapa emiten dapat dicermati berdasarkan kombinasi visibilitas laba dan rekam jejak distribusi dividen yang kuat.

Sektor perbankan yang memiliki rekam jejak distribusi dividen kuat dan stabil mencakup BBCA dan BMRI.

Sementara dari sektor komoditas dan sawit, TAPG, SMSM, dan ITMG dinilai menarik berkat fundamental laba yang solid. PSAB dapat menjadi pilihan dengan karakter yang lebih agresif.

Investor juga disarankan tidak hanya mengejar saham berdasarkan dividend yield. Pasalnya, harga saham secara teoritis akan mengalami penyesuaian setelah tanggal cum-date.

Strategi akumulasi saham idealnya dilakukan secara bertahap jauh sebelum periode puncak aktivitas pasar pada Oktober-November.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua