Breaking

Harga Emas Turun Tiga Hari Berturut-turut hingga Mencapai Level 4300 US Dollar

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Rabu, 09 September 2026
Harga Emas Turun Tiga Hari Berturut-turut hingga Mencapai Level 4300 US Dollar
Ilustrasi Emas (FOTO : NET)

JAKARTA – Harga emas kembali mengalami penurunan akibat kenaikan harga minyak dunia. Lonjakan harga minyak tersebut memicu kekhawatiran inflasi dan memperbesar dugaan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada September.

Para investor saat ini menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat guna memperoleh gambaran lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter.

Berdasarkan data Refinitiv, harga emas pada penutupan perdagangan Selasa (8/9/2026) berada di level US$ 4354,19 per troy ons. Angka tersebut merosot sebesar 1,15% dan membawa emas kembali ke level US$4300.

Penurunan ini memperpanjang tren negatif harga emas yang telah terkoreksi 2,7% dalam tiga hari terakhir.

Pergerakan harga emas masih tercatat melemah pada hari ini. Pada Rabu (9/9/2026) pukul 07.02 WIB, harga emas terkikis 0,05% menjadi US$ 4352,14 per troy ons.

"Emas bergerak dalam kisaran terbatas karena tertahan oleh meningkatnya kemungkinan kenaikan suku bunga, yang terus menghambat momentum pasar," kata Daniel Pavilonis, senior market strategist di StoneX, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam beberapa pekan hingga mendekati US$ 100 setelah kelompok Houthi yang disokong Iran di Yaman menyerang fasilitas energi Arab Saudi. Selain itu, Teheran turut mengancam Amerika Serikat dengan perang ekonomi.

Harga minyak mentah Brent hampir menyentuh US$100 per barel, tepatnya di level US$99,46 per barel yang merupakan posisi tertinggi sejak 24 Juli. Situasi ini kembali meningkatkan kecemasan terhadap lonjakan inflasi.

Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran inflasi sekaligus memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga pada September, kata Peter Grant, wakil presiden sekaligus senior metals strategist di Zaner Metals, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Mengutip CME FedWatch Tool, para pelaku pasar kini memprediksikan sekitar 60% peluang The Fed menaikkan suku bunga pada rapat kebijakan mendatang. Angka tersebut naik dibanding estimasi sebelum rilis data ketenagakerjaan yang berada di kisaran 50%.

Pasar kini tengah menantikan rilis data inflasi yang dijadwalkan keluar pada hari Kamis.

Sementara itu, harga perak juga mengalami penurunan. Berdasarkan Refinitiv, harga perak pada penutupan perdagangan Selasa (8/9/2026) berada pada level US$ 65,75 per troy ons setelah terkoreksi 0,6%.

Pelemahan ini melengkapi tren negatif harga perak yang merosot 1,8% dalam tiga hari terakhir.

Pada hari ini, tren penurunan harga perak masih berlanjut. Pada Rabu (9/9/2026) pukul 07.09 WIB, harga perak turun 0,26% ke posisi US$ 65,59 per troy ons.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua