Ekspektasi Suku Bunga The Fed Tekan Harga Emas Hingga 1 Persen
JAKARTA – Harga emas dunia mengalami penurunan lebih dari 1 persen pada penutupan perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB.
Penurunan ini terdorong oleh rilis data inflasi Amerika Serikat yang memanas serta lonjakan harga minyak bumi.
Kondisi tersebut meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga acuannya pada pekan depan.
Harga emas di pasar spot melemah 1 persen ke level 4.355,85 dollar AS per troy ounce.
Sebelumnya, harga logam mulia ini sempat merosot hingga 1,7 persen ke titik terendahnya di level 4.323,78 dollar AS per troy ounce.
Adapun harga emas berjangka AS terkoreksi 1,2 persen dan mengakhiri perdagangan di posisi 4.407,30 dollar AS per troy ounce.
Pelemahan ini terjadi seiring rilis indeks harga produsen AS yang mencatatkan kenaikan tekanan inflasi.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan permintaan akhir pada Agustus 2026 naik 0,4 persen setelah hanya tumbuh 0,1 persen pada bulan sebelumnya.
"Data PPI kurang lebih menunjukkan bahwa telah terjadi sedikit peningkatan inflasi yang mendasari dalam perekonomian AS, dan sebagian dari peningkatan tersebut disebabkan oleh kenaikan biaya energi," kata Senior Financial Market Analyst Capital.com, Kyle Rodda sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Laporan inflasi tersebut menggeser proyeksi para pelaku pasar mengenai arah kebijakan moneter The Fed.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga AS pekan depan kini melesat ke angka 70 persen dari sebelumnya 62 persen.
Meski begitu, sebagian besar ekonom dalam survei Reuters memprediksi bank sentral AS masih akan menahan suku bunga pada rapat 15-16 September 2026.
Selain faktor suku bunga, laju harga emas juga tertahan oleh penguatan mata uang dollar AS.
Apresiasi dollar AS membuat emas relatif lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain, sehingga mengurangi daya tarik investasi.
Tekanan terhadap emas kian bertambah menyusul naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun.
"Obligasi harus mencerminkan inflasi yang lebih persisten dan lebih tinggi akibat kenaikan harga minyak, yang membuat harga emas turun," ujar Rodda sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Kenaikan imbal hasil obligasi memicu peningkatan opportunity cost dalam memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Di sisi lain, harga minyak mentah melonjak 4 persen pada hari Kamis.
Minyak jenis Brent bahkan menembus 105 dollar AS per barel akibat lonjakan serangan terhadap kapal pascakonflik AS-Iran.
Situasi ini memicu kekhawatiran atas tersendatnya pasokan energi yang dapat memperparah inflasi global.
Sementara itu, Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunga utamanya untuk kedua kalinya sepanjang tahun 2026 demi meredam inflasi energi.
Pelemahan juga melanda komoditas logam mulia lainnya di pasar global.
Harga perak spot meluncur 4,6 persen menjadi 64,19 dollar AS per ounce.
Harga platinum terkikis 5,5 persen ke level 1.791,13 dollar AS per ounce, sedangkan palladium merosot 5,1 persen ke posisi 1.283,52 dollar AS per ounce.