Breaking

Bursa Asia Bergerak Beragam, Nikkei dan Kospi Menguat

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Selasa, 15 September 2026
Bursa Asia Bergerak Beragam, Nikkei dan Kospi Menguat
Ilustrasi Bursa Asia bergerak beragam atau mixed pada perdagangan Selasa (15/9/2026) pagi, dengan mayoritas indeks berada di zona merah. (sumber foto: NET)

JAKARTA - Bursa Asia bergerak beragam atau mixed pada perdagangan Selasa (15/9/2026) pagi, dengan mayoritas indeks berada di zona merah.

Pada pukul 08.22 WIB, pergerakan sejumlah indeks utama Asia adalah sebagai berikut:

  • Nikkei 225
    Naik 274,25 poin atau 0,42% ke 63.757,21.
  • Hang Seng
    Naik 16,46 poin atau 0,07% ke 24.934,06.
  • Taiex
    Turun 60,79 poin atau 0,13% ke 45.771,95.
  • Kospi
    Naik 18,54 poin atau 0,28% ke 6.704,26.
  • ASX 200
    Turun 56,97 poin atau 0,65% ke 8.692,90.
  • Straits Times
    Turun 16,33 poin atau 0,30% ke 5.700m93.
  • FTSE Malaysia
    Turun 7,39 poin atau 0,44% ke 1.690.

Indeks MSCI juga turun 0,1%. Pergerakan saham-saham Asia tersebut mengikuti pelemahan yang terjadi di Wall Street.

Kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran terhadap inflasi semakin membuka peluang kenaikan suku bunga The Fed. Pasar saham global juga tertekan setelah sejumlah pengembang AI terkemuka mengusulkan agar perkembangan teknologi tersebut diperlambat.

"Ada banyak faktor mendasar yang menyebabkan aksi jual suku bunga berkelanjutan sebagai jalan termudah untuk saat ini," kata Zach Griffiths, kepala strategi investasi dan makri di perusahaan riset CreditSights, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, pada Senin (14/9), pejabat China menolak seruan dari para pemimpin teknologi Amerika Serikat untuk memperlambat pengembangan AI dengan alasan keamanan.

China menyebut seruan tersebut sebagai penyebaran ketakutan dan juga membantah klaim bahwa kemajuan teknologi China menimbulkan ancaman terhadap keamanan global.

"Sudah ada cukup banyak kegelisahan di pasar dan jika beberapa pemain utama sekarang mengatakan: tunggu dulu, kita sedikit memperlambat, itu akan menambah ketidakpastian," kata Chris Armstrong, ahli strategi di Berenberg, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua