Breaking

Wall Street Menguat, Nasdaq Melonjak 1,69 Persen

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Jumat, 18 September 2026
Wall Street Menguat, Nasdaq Melonjak 1,69 Persen
Ilustrasi saham teknologi memimpin penguatan indeks utama Wall Street di tengah melandainya harga minyak (sumber foto: NET)

JAKARTA - Indeks utama Wall Street kembali bangkit dan berakhir menguat pada perdagangan Kamis (17/9/2026). Penguatan tersebut terjadi seiring meredanya harga minyak, penurunan imbal hasil obligasi AS, serta data tenaga kerja yang solid sehingga membantu pasar meredam sentimen kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 317,95 poin atau 0,62% ke level 51.779,85. S&P 500 bertambah 85,93 poin atau 1,14% ke level 7.637,74, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 439,87 poin atau 1,69% menjadi 26.418,30.

Volume perdagangan saham di bursa AS tercatat mencapai 17,5 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 15,37 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.

Sektor teknologi menjadi pemimpin penguatan di antara 11 sektor utama S&P 500. Sementara itu, sektor keuangan dan barang kebutuhan pokok konsumen (consumer staples) menjadi dua sektor yang berakhir melemah, meski penurunannya tipis.

Saham perusahaan tambang emas dan perak serta produsen cip mencatat kinerja yang sangat baik dengan kenaikan masing-masing lebih dari 3%.

Saham perbankan yang sensitif terhadap suku bunga juga kembali stabil setelah sebelumnya terkoreksi 2,3% pada Rabu.

Ketiga indeks utama saham AS ditutup jauh lebih tinggi, seiring reli luas yang dipimpin oleh sektor teknologi. Nasdaq mencatat kenaikan paling besar.

"Kami melihat adanya minat pada sektor-sektor pasar yang sebelumnya terpukul keras akibat antisipasi kenaikan suku bunga Fed ini," kata Robert Pavlik, manajer portofolio senior di Dakota Wealth di Fairfield, Connecticut. "Dan orang-orang mulai masuk, melakukan sedikit pembelian saat harga terkoreksi." sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Harga minyak mentah turun hingga mencapai level terendah dalam satu minggu. Kondisi tersebut terjadi setelah kekhawatiran mengenai gangguan pasokan mereda menyusul laporan mengenai minyak Arab Saudi yang dialirkan melalui Oman.

Namun, penurunan harga minyak sempat tertahan karena situasi Timur Tengah masih berada dalam kondisi tegang. Harga energi telah meningkat sejak konflik AS-Israel melawan Iran dimulai dan turut memicu tekanan inflasi global yang lebih luas.

Pada Rabu, para pembuat kebijakan Fed secara bulat menyepakati kenaikan suku bunga acuan (Fed funds rate) untuk pertama kalinya sejak Juli 2023.

Dalam pernyataan bank sentral, Fed menyebutkan komitmennya untuk kembali lebih cepat menuju target inflasi 2%. Pernyataan tersebut membuka peluang bagi pengetatan kebijakan lebih lanjut pada tahun ini.

"Pasar merasa sedikit lega dengan kekompakan sikap Fed, di mana mereka semua memberikan suara yang sama," kata Ross Mayfield, analis strategi investasi di Baird di Louisville, Kentucky. sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Ketua Fed Warsh kembali menegaskan independensi Fed." sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan perangkat FedWatch dari CME, pasar keuangan saat ini memperhitungkan kemungkinan sebesar 53,1% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi pada pertemuan The Fed berikutnya di bulan Oktober. Angka tersebut meningkat dari 27,2% pada pekan sebelumnya.

Dalam konferensi pers pada Rabu, Ketua The Fed, Kevin Warsh, menyatakan bahwa ekonomi AS berada dalam kondisi kuat dan upaya mempertahankan stabilitas harga tidak harus berdampak buruk terhadap pasar tenaga kerja.

Pandangan tersebut mendapat dukungan dari laporan mingguan klaim tunjangan pengangguran Departemen Tenaga Kerja. Laporan itu menunjukkan penurunan klaim awal hingga mendekati level terendah sejak tahun 1969.

Indeks Volatilitas Pasar CBOE, yang kerap disebut "indeks ketakutan" (fear index), juga menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan. Pergerakannya sejalan dengan meredanya harga minyak mentah.

"Ketika terjadi guncangan harga minyak yang berkepanjangan seperti ini, dampaknya pasti akan mulai merembes ke harga-harga di seluruh sektor ekonomi. Ini benar-benar satu-satunya hambatan utama yang dihadapi ekonomi global saat ini," tambah Mayfield. sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Dan jika ada perbaikan atau penyelesaian masalah ini, hal itu akan menjadi angin segar bagi konsumen maupun perusahaan, serta memungkinkan The Fed untuk bersikap tidak terlalu agresif (hawkish)." sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua