Breaking

Suku Bunga Tinggi, Ini Prospek Sektor dan Saham Pilihan Analis

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Jumat, 18 September 2026
Suku Bunga Tinggi, Ini Prospek Sektor dan Saham Pilihan Analis
Ilustrasi pergerakan saham sektor perbankan, properti dan konsumer di tengah perubahan kebijakan suku bunga (sumber foto: NET)

JAKARTA - Potensi rotasi sektoral emiten dinilai kembali terjadi di tengah era suku bunga tinggi. Sebagai pengingat, Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75% - 4% pada September 2026 dan berpotensi kembali meningkatkan suku bunga.

Di Indonesia, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) juga masih berada pada level tinggi. Pada Agustus 2026, suku bunga BI berada di level 5,75%.

Kenaikan Fed Rate pada September dinilai lebih membatasi ruang gerak pasar saham Indonesia untuk melanjutkan penguatan dibandingkan memicu koreksi tajam.

Sebagai gambaran, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 0,4% ke 6.462 pada perdagangan Kamis (17/6/2026).

“Kenaikan Fed Rate sebesar 25 bps sudah diprediksi pasar sebelumnya,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Analis Phillip Sekuritas Helen Vincentia mengatakan, pergerakan IHSG ke depan tidak hanya ditentukan oleh suku bunga. Faktor lain yang turut berpengaruh antara lain konflik geopolitik, pergerakan harga komoditas terutama minyak, foreign flow, dan MSCI rebalancing.

Pada akhir 2026, peluang terjadinya net buy asing di pasar saham masih terbuka. Hal tersebut dapat didorong oleh perbaikan kondisi pasar, seperti rupiah yang stabil, harga minyak yang kembali turun, serta respons positif dari MSCI.

“Jika faktor-faktor tersebut menunjukkan perbaikan, peluang foreign inflow meningkat,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Helen memproyeksikan IHSG berada di level 6.895 pada akhir 2026. Jika kondisi membaik, foreign flow mulai masuk, dan rupiah stabil, skenario berikutnya berada di level 7.500.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai kenaikan tingkat suku bunga akan menurunkan daya beli dan konsumsi, investasi, serta memperlambat perekonomian.

Namun, selisih antara Fed Rate dan BI Rate masih berada pada kisaran 200 – 225 bps. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi BI untuk dapat bertahan sementara waktu.

“IHSG akan ada di rentang 6.400 – 7.000 pada akhir tahun 2026,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di tengah era suku bunga tinggi, rotasi sektoral dinilai menjadi hal yang tidak terhindarkan. Helen menyebut sektor yang biasanya terdampak dan sensitif terhadap kebijakan suku bunga antara lain properti, perbankan, serta otomotif.

Rully lebih melihat emiten tambang sebagai salah satu referensi bagi investor karena kinerjanya dinilai tidak akan terlalu terdampak negatif oleh suku bunga dan pelemahan rupiah.

Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su berpandangan, sektor yang paling terdampak negatif dari suku bunga tinggi adalah sektor yang membutuhkan pendanaan besar dan memiliki tingkat leverage tinggi. Sektor tersebut mencakup properti, konstruksi, serta beberapa sektor yang masih bergantung pada ekspansi berbasis utang.

“Kenaikan biaya dana dapat menekan margin dan memperlambat ekspansi bisnis,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, sektor perbankan masih berpotensi memperoleh manfaat dari kenaikan suku bunga melalui peningkatan margin bunga bersih. Namun, risiko perlambatan pertumbuhan kredit dan kenaikan kredit bermasalah tetap perlu diperhatikan.

“Dalam kondisi ini, potensi rotasi sektor dapat terjadi menuju saham dengan fundamental kuat, arus kas stabil, dan tingkat utang rendah,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Nico mengatakan sektor perbankan, khususnya yang memiliki CASA tinggi, akan terdampak positif. Kondisi tersebut didorong oleh pelebaran NIM perbankan.

Selain itu, ketika tingkat suku bunga meningkat, sektor konsumer yang merupakan salah satu sektor defensif dinilai tetap mampu bertahan.

Sementara itu, sektor yang dirugikan adalah sektor yang berkaitan dengan tingkat suku bunga, terutama kredit untuk properti atau otomotif.

“Selain itu sektor infrastruktur dan konstruksi juga akan terbebani karena adanya kenaikan beban utang untuk membiayai proyek yang memiliki skala besar,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dalam kondisi tersebut, emiten perlu menjaga disiplin belanja modal, memperbaiki struktur utang, meningkatkan efisiensi operasional, serta mempertahankan likuiditas untuk menghadapi periode suku bunga tinggi yang berkepanjangan.

Emiten juga perlu aktif melakukan restrukturisasi struktur utang untuk mengurangi tekanan terhadap cash flow perusahaan.

Nico mengatakan emiten wajib berfokus pada working capital. Aset yang terlalu besar dapat dikurangi, credit terms pelanggan diperketat, sedangkan payment terms kepada supplier dapat diperpanjang.

Perusahaan juga dapat memprioritaskan proyek dengan nilai ROIC tinggi guna memastikan return investasi berada cukup jauh di atas cost of capital.

“Pengurangan capital expenditure (capex) juga bisa dilakukan, yang mana memang salah satu imbas dari era suku bunga tinggi adalah fase perlambatan ekspansi,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Investor juga direkomendasikan untuk selektif dalam memilih saham yang memiliki fundamental kuat, valuasi dan tata kelola yang baik, serta free float saham yang memadai selama era suku bunga tinggi.

Harry mengatakan investor juga perlu memperhatikan risiko volatilitas pasar yang muncul akibat perubahan kebijakan The Fed dan pergerakan nilai tukar rupiah.

“Hati-hati terhadap saham dengan valuasi tinggi maupun perusahaan yang membutuhkan pendanaan besar karena tekanan suku bunga dapat membatasi potensi kenaikan harga saham,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Nico menyarankan investor melakukan realokasi aset ke aset-aset yang memiliki potensi keuntungan lebih besar. Dalam kondisi tersebut, saham-saham bank buku besar seperti BBRI, BMRI, BBCA dan BBNI patut dicermati investor.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua