JAKARTA - Performa impresif ditunjukkan oleh emiten energi PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) sepanjang periode tiga bulan pertama tahun 2026. Laporan keuangan menunjukkan bahwa perseroan berhasil mencatatkan laba bersih senilai US$67,4 juta atau setara dengan Rp1,17 triliun.
Pencapaian laba bersih tersebut mengalami peningkatan signifikan sebesar 282,3% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Angka fantastis ini menjadi bukti nyata adanya perbaikan profitabilitas serta efisiensi operasional yang dijalankan perusahaan.
Kenaikan pendapatan turut menyokong penguatan kinerja keuangan perusahaan pada kuartal I 2026 ini. Pendapatan tercatat tumbuh sebesar 19,2% secara tahunan atau year-on-year menjadi US$668,3 juta atau sekitar Rp11,58 triliun.
Segmen operasional juga memberikan kontribusi positif terhadap perolehan EBITDA perusahaan selama periode tersebut. EBITDA dilaporkan naik 5,7% menjadi US$351,1 juta atau sekitar Rp6,08 triliun dengan margin tercatat sebesar 52,5%.
Produksi harian minyak perusahaan juga mengalami tren peningkatan yang cukup menjanjikan sepanjang kuartal pertama tahun ini. Produksi harian meningkat 18,1% menjadi 169 million barrels of oil equivalent per day (mboepd).
Angka produksi tersebut dinilai masih selaras dengan target panduan perusahaan untuk tahun 2026 yang berada di kisaran 165 hingga 170 mboepd. Hal ini menunjukkan konsistensi manajemen dalam menjaga target operasional di tengah dinamika sektor energi.
Faktor pendorong utama lainnya adalah kontribusi nyata dari entitas PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Kontribusi dari AMMN tercatat sebesar US$33,5 juta atau sekitar Rp580,35 miliar yang semakin memperkuat bottom line perseroan.
Selain kontribusi dari segmen pertambangan, pergerakan harga komoditas global juga memberikan dampak langsung terhadap arus kas perusahaan. Perusahaan mencatat harga jual rata-rata minyak mencapai US$75,1 per barel, naik dari posisi US$72,2 per barel di kuartal I 2025.
Perbaikan kondisi keuangan juga tercermin dari pengelolaan neraca perusahaan yang semakin disiplin dan terukur. Total utang konsolidasi berhasil ditekan turun menjadi US$3,52 miliar dari posisi sebelumnya sebesar US$3,65 miliar pada akhir tahun 2025.
Perbaikan struktur modal ini berdampak pada rasio net debt to EBITDA yang kini membaik ke level 1,7x. Kedisiplinan dalam pengelolaan utang semacam ini tentunya meningkatkan fleksibilitas keuangan perusahaan untuk langkah strategis ke depan.
Segmen ketenagalistrikan pun tidak ketinggalan menunjukkan performa pertumbuhan yang cukup solid bagi portofolio bisnis perusahaan. Penjualan listrik tercatat naik sebesar 20,8% secara tahunan menjadi 1.053 GWh.
Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh penjualan sektor energi terbarukan yang meningkat sebesar 23,1%. Hal ini menegaskan strategi diversifikasi bisnis yang diterapkan oleh MEDC untuk mengurangi ketergantungan pada sektor migas konvensional.
Manajemen perusahaan juga menegaskan bahwa panduan kinerja untuk tahun 2026 tetap terjaga dengan baik. Target belanja modal atau capex dipatok sebesar US$415 juta untuk sektor migas dan US$15 juta untuk bisnis listrik.
Sebagai katalis di masa mendatang, proyek Bualuang Phase-1 dijadwalkan akan mulai beroperasi atau onstream pada kuartal II 2026. Investor kini terus memantau pipeline pertumbuhan ini sebagai indikator utama bagi keberlanjutan ekspansi perusahaan.
Secara keseluruhan, kinerja MEDC pada kuartal pertama tahun ini mencerminkan fundamental yang semakin kuat. Keberhasilan dalam mengintegrasikan berbagai sektor bisnis menjadi kunci utama di balik lonjakan profitabilitas yang signifikan tersebut.